Search Here

Jumat, 02 Januari 2015

Book Review: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin oleh Tere Liye

Assalamu'alaikum minna-san!! ^_^
Kali ini saya mau coba-coba mereview buku yang barusan saya beli (udah lumayan lama sih sebenernya tapi baru ada niat nge-review sekarang..hahahaa..). Ini adalah novel yang pertama kali sekaligus novel lokal yang saya review. Sebenernya sih nggak begitu tahu juga siapa Tere Liye itu. Tapi penasaran juga sih, soalnya teman-teman yang udah baca novelnya, rata-rata pada bilang bagus. Touching banget, pokoknya nge-feel banget daaah.. Dan hal itu saya buktikan ketika membeli novelnya, judulnya Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Waktu itu saya sih awalnya nggak niat beli novel Tere Liye itu tapi entah kenapa ketika baca judulnya (yang menurut saya lumayan panjang), saya malah jadi tertarik. Waktu itu saya baca sinopsisnya dulu yang di bagian cover belakang. Setelah menimbang-nimbang lalu memutuskan, saya beli itu novel bersama dengan novel terbitan Noura Books yang judulnya Soulmatch karya Alfian Daniear. Naah, sebenarnya novel Soulmatch ini yang emang bener-bener pengen saya beli. Soalnya di dalamnya ada formulir lomba nulis novel teenlit. Yaa.. itung-itung buat nambah koleksi bacaan saya..heheee.. ^_^v

Saya yakin sih, udah banyak yang mereview buku ini. Para blogger yang notabene 'kutu buku' ataupun penggemar Tere Liye pasti nggak ketinggalan baca buku ini. Dan saya juga yakin review mereka juga bagus-bagus :-) waduuhh.. saya jadi nggak pede..haagghh..haagghh... namun dengan semangat membara dan berkobar-kobar laksana para pejuang kemerdekaan (haiiyaaahhh...), saya tetap melanjutkan niat saya untuk mereview novel Tere Liye ini. Soalnya dari pendapat saya pribadi, novel ini bagus (walaupun saya baru pertama kali baca karya Tere Liye). Kalo untuk novelnya yang diangkat ke layar lebar (Hafalan Sholat Delisa), saya malah belum pernah baca. heheheee...
cover depan novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
cover belakang

menilik dari cover-nya, menurut saya cukup simple, namun saya menjadi yakin dengan pepatah "Don't Judge the Book by Its Cover". It's true, voilaaa... setelah saya membaca novelnya, ternyata cerita di dalamnya tidak se-simple covernya :) dan saya sukaaaaaa ^o^. Ceritanya nggak 'umum' seperti cerita-cerita percintaan pada umumnya. Walaupun alur yang disajikan bisa dibilang cukup memusingkan (dari maju-mundur-maju-mundur lagi), tapi saya sebagai pembaca cukup terbantu dengan adanya keterangan waktu di awal tiap pergantian scene. Penokohan setiap karakternya juga unik, dari seorang Tania yang awalnya seorang remaja berusia belasan tahun, yang masih begitu polos, lalu seiring berjalannya waktu menjadi sosok yang independent. Juga digambarkan tokoh Danar, seorang pria dewasa yang begitu 'baik' bak malaikat bagi keluarga Tania (namun di akhir-akhir cerita, pengen rasanya saya sambit pake ember :p). Ada juga tokoh Dede, adik Tania yang lucu tapi nyebelin (kalo Dede ini mah karakternya 'gue banget'..hahahaaaa..).

Nah, untuk ceritanya sendiri, secara umumnya sih, Tania dan Dede ini adalah 2 anak yang kerjaan sehari-harinya menjadi pengamen. Karena ayahnya meninggal, mereka jadi putus sekolah dan ibunya nggak mampu membiayai sekolah mereka. Rumah mereka hanya sebuah rumah berdinding kardus yang di samping (atau di depan ya? pokoknya di deket rumah kardus itu) ada pohon lindennya. Suatu hari Tania dan Dede bertemu dengan seseorang, namanya Danar, tapi di setiap penuturan dari sudut pandang Tania, dia hanya disebut dengan 'seseorang' atau 'dia'. Danar ini datang bak malaikat bagi keluarga kecil Tania. Tania dan Dede dibiayai sekolahnya, ibunya pun diberikan modal usaha untuk jualan kue. Namun, diceritakan ibunya meninggal karena sakit. Singkat cerita, Tania menjadi murid teladan dan mendapatkan beasiswa ke Singapura. Tania berusaha mati-matian menuruti segala perintah dan keinginan Danar karena Tania diam-diam jatuh cinta pada Danar. Iyee.. anak umur belasan tahun jatuh cinta sama mas-mas yang umurnya 20-an tahun :D Namun segala upaya tampaknya nggak bisa membuat Danar mencintainya (boro2, respon aja nggak..). Akan tetapi (langsung aja yee.. untuk lebih jelasnya silakan baca novelnya..hehee.. pereview macam apa ini?? wakakakakkk..), pada akhirnya setelah waktu berlalu Danar ternyata juga menyimpan rasa untuk Tania. Hanya saja yang bikin geregetan (yg sampe bikin saya pengen nyambit pake ember), Danar ini nggak pernah jujur, nggak pernah mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Dia malah menikah dengan wanita lain. Dan semuanya terkuak setelah pernikahan itu sudah terjadi. Pokoknya saya geregetan banget daaaah... Intinya bener2 ini cerita bikin emosi diaduk-aduk (entah karena ceritanya emang mirip dengan kisah hidup saya atau emang pintarnya Tere Liye memainkan kata2..). Saya pas baca sampe nangis2 bombay..lebay? biariiin...hwahahhaaa.. Dan saya baca kedua kali, saya mewek2 lagi.. nggak tau apa saya yang terlalu exaggerating atau ada kelainan *eeh..*
Pokoknya kalo saya boleh bilang, ini novel recommended dah. Tapi mungkin kurang cocok kalo pas lagi galau baca novel ini. Yang ada ntar tambah gundah gulana.. seperti saya.. buktinya saya baca sampai dua kali masih 'mbrebes mili' air mata saya.. *sudahlah..abaikan saja..*
Selamat membaca!!! ;)

Wassalamu'alaikum, minna-san...:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar